Bulan Sabit Merah Indonesia

Untuk Kemanusiaan dan Perdamaian

Harumnya Merah Putih bersama Bulan Sabit Merah Indonesia

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Bulan Sabit Merah Indonesia atau BSMI merupakan lembaga yang berkhidmat dalam bidang kesehatan dan sosial di Indonesia dan bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan di tingkat nasional, regional dan internasional, demikian visi yang dimilikinya. Diawal tahun 2009, BSMI terbang langsung menuju Palestina disaat terjadi bencana kemanusiaan dimana Israel melakukan Aksi militer ke daerah Gaza yang merupakan wilayah kedaulatan Palestina.

Yang terjadi adalah korban sipil ratusan jiwa (kebanyakan anak-anak dan orang tua), ribuan luka-luka, sarana prasarana hancur di terjang bom-bom militer. Kini di November 2012 perang 8 hari kembali menimbulkan krisis kemanusiaan di Gaza Palestina. Respon BSMI kembali memberangkatkan Tim Kemanusiaan dengan brand seirama dengan Pemerintah yaitu Capacity Building for Palestine. BSMI memberi bantuan pelatihan teknologi medis stem cell, protease, scholarship dan tentunya bantuan tenaga dokter spesialis dan bantuan alat medis untuk RS Shifa di Gaza.

       Bahasa kemanusiaan adalah bahasa universal, disaat penduduk dibelahan bumi yang jauh disana, lintas negara dan lintas benua, masyarakat tergerak membantu meringankan penderitaan. Tidak terkecuali Indonesia, masyarakat Indonesia melalui Bulan Sabit Merah Indonesia hadir menolong pengungsi dan korban aksi militer Israel terhadap penduduk Gaza/Palestina (2009,2010,2012) atau ketika Konflik militer Israel dengan Libanon (2006). Merupakan sebuah fenomena yang unik, Indonesia yang menggunakan lambang ‘resmi’ Palang Merah menyertakan relawan dari Bulan Sabit Merah yang jelas-jelas menggunakan lambang Bulan Sabit Merah, 2 lambang yang dilindungi oleh Konvensi Jenewa. Hal ini merupakan pelajaran berharga bahwa aksi kemanusiaan dan perdamaian tidak dapat dihalangi oleh sebuah ‘Rules’ yang mengharuskan bahwa satu negara satu lambang sehingga warga negara yang ingin berkontribusi dalam aksi kemanusiaan dunia internasional tidak dapat dihalang-halangi.

      Selama untuk meringankan penderitaan sesama manusia sebagai warga dan masyarakat dunia, merupakan alasan yang paling logis bahwa penggunaan sebuah lambang untuk kemanusiaan sekalipun tidak bisa dipaksakan hanya satu saja lambang kemanusiaan. Terbukti Aksi BSMI yang datang ke Myanmar untuk Komunitas Rohingya yang terusir dan berada di camp-camp (2012),  Pakistan (2005), dan Irak, Baghdad (2003), BSMI sebagai interpretasi warga dunia yang berdedikasi dalam kemanusiaan, penuh dengan pengorbanan dalam menolong, adalah memberikan manfaat secara simbolis kepada negara karena membawa nama Indonesia dengan bendera merah putih dihadapan miliaran mata warga dunia. Timur tengah dan kawasan yang akrab dengan lambang Bulan Sabit Merah sangat mendukung secara kultur dalam sebuah aksi kemanusiaan. Karena bisa dijadikan sebuah perhatiaan bahwa penggunaan Palang Merah (Soliibul Ahmar/ Salib merah) menjadi pengganjal bagi seorang relawan masuk dengan adat dan kultur yang berbeda untuk menolong disaat situasi konflik maupun kebencanaan.

        Penggunaan Bulan Sabit Merah sebagai panji kemanusiaan tidak dapat dilepaskan dari faktor kultural dan dasar sosiologis bagi relawan-relawan yang menggunakannya. karena berdasar dari keyakinan dan semangat voluunteris maka sah-sah saja aksi kemanusiaan tidak dapat dilarang. Hal ini harmoni dengan semangat kebebasan, demokrasi dan reformasi di negara yang kita cintai ini. Semakin nyatanya kiprah BSMI di luar negeri atau dalam negeri sekalipun maka sungguh tidak arif bahwa BSMI akan dilarang dengan dipaksa mengganti lambang kemanusiaan yang selama ini dipegang yaitu Bulan Sabit Merah.

Moga hal ini menjadi tinjauan ulang bahwa RUU Lambang Palang Merah (kini RUU Kepalangmerahan) yang saat ini dibahas di Komisi III DPR RI (2005-2009) dan Badan Legislasi (Baleg) DPR RI (2012-..?) adalah lebih besar mudharatnya ketimbang kebaikan dimana resistensi yang akan muncul dan kebhinekaan yang akan melemah disebabkan adanya upaya pemaksaan sistematis yang giat bahwa hanya boleh ada satu saja lambang kemanusiaan sehingga meng’Ilegalkan lambang lain seperti lambang Bulan Sabit Merah.(Tulisan Dari Warga Biasa)

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: