Bulan Sabit Merah Indonesia

Untuk Kemanusiaan dan Perdamaian

Ketika Nurani Memanggil

Gambar

 

Dalam perjalanan balik ke Mataram zuhur tadi ada mobil “jumping” ke dalam jurang dengan kedalaman -+ 20 meter. Spontan aja berhenti sama Adik. Buru-buru menuju kerumunan dibibir jurang melongok memperhatikan kondisi dibawah. Beberapa orang sedang berusaha merayap turun untuk memberi pertolongan. Sy mulai menggerakkan seluruh pikiran untuk apa yg bisa sy lakukan. Tiba-tiba tersadar saya pake jaket relawan dan secara refleks kaki saya bergerak hendak ikut turun ke jurang.

Tiba-tiba adik memegang tangan sy : “JANGAN!!!”

 

Sy : “Kenapa?”

Adik : “Kk perempuan, biar yg laki aja turun”

Sy : “Dek, Kk mau lihat kondisi mereka..”

Adik :” Ndak usah! Biar saja mereka mati. Mereka mabuk itu, tadi malam sudah bikin onar. Yg kelahi malam lebaran jg mereka itu.. ” (wajah adik saya kesal)

Sy : (diam sejenak. Rupanya adik saya mengenali para penumpang dalam mobil yang jatuh setelah melihat mobil itu)

“ Dek, lihat ndak Kk pake apa? Siapapun mereka kewajiban Kk bwt menolong    mereka..”

Adik : “Buka jaketnya”! (intonasi adik saya masih kesal)

Sy : “Ya sudah! Kita panggil Ambulans saja di Lembar..” (saya menyebut kecematan terdekat di bawah jurang pegunungan yang pastinya ada Puskesmasnya)

Adik : (diam lalu berjalan ke arah motor)

 

Singkatnya, setelah ketemu puskesmas terdekat dan melaporkan kejadian serta minta tolong ambulans menuju lokasi. Sy dan adik melanjutkan perjalanan ke Mataram.

Sepanjang perjalanan pikiran sy berkecamuk…

“apa yg sy lakukan tadi? Sudah benarkah? Bagaimana bisa? Apa yg sy pikirkan smp mau ikut turun jurang segala? Lagian mereka – seperti kata adik sy – adalah para pemuda pemabuk yg suka buat onar”

 

___ sejenak tarik nafas dan membuka kaca helm yang menutupi wajah saya untuk menghirup udara segar.

 

Baiklah…

 

Mengingat kembali tentang diri saya yang punya penyakit Akut : “phobia darah”.

Dalam kondisi normal dan sadar, setiap kali bertemu darah saya akan lansung merasa mual dan pusing serta berkeringat dingin.

Tapi saya yakin benar ada hal yang berbeda dalam 1 tahun terakhir.

Yang dulu biasanya saya menghindar dan lari tiap kali ketemu accident, akhir-akhir ini tidak lagi.

Selalu secara spontan saya pasti berhenti dan memastikan melihat kondisi korban. Bahkan jg : Menolong.

 

 

Ya! Menolong.

Kata ini tiba-tiba saja menjadi kata Ajaib buat saya.

Bukan tentang menolongnya, tapi tentang peristiwa yang membuat saya menolong.

Accident.

 

Dan hal ini melibatkan luka berdarah-darah.

Dan sy…

Tidak takut, tidak mual, pusing atau keringat dingin.

Saya ingat benar saat membalut luka dua gadis yang menabrak gerobak besi dengan handuk kecil, membopong gadis cilik bersepeda yang tertabrak sepeda motor, juga menolong seorang pelajar SMA yang terpelanting dari boncengan temannya..

 

 

Mengingat sedikit peristiwa yg membuat saya bertindak “ajaib” itu, saya jada berfikir..

“Apa yang saya pikirkan ketika bertindak seperti itu? Ingin menjadi pahlawankah? Padahal dari semua tindakan itu, akibatnya justru nyaris membuat saya celaka sendiri. Seperti waktu menolong anak yang tertabrak sepeda motor, dengan tanpa pikir saya berhenti dan meninggalkan motor bersama koncinya lalu membawa anak itu ke puskesmas terdekat dengan menyetop mobil entah siapa yang lewat. Hal yang sama juga saya lakukan pada anak SMA yang terjatuh..”

 

Waktu menolong anak yang tertabrak sepeda motor, selain kecerobohan meninggalkan motor sembarangan, saya juga nyaris dipukul kakek korban karna dikira menabrak.

Pun waktu membawa anak SMA yang terjatuh ke RS juga saya sempat dijutekin keluarganya krn dikira teman yang menjatuhkan. Heh he

(Ketawa aja lah)

Dan waktu menolong remaja-remaja yang menabrak gerobak, saya tanpa sadar mengorbankan handuk baru titipan teman untuk membalut luka mereka.

(Untungnya handuk itu di ikhlaskan oleh teman saya, jadi tidak perlu mengganti)

 

Jadi, dari semua tindakan refleks yang tidak sepenuhnya “sadar” saya lakukan itu, benarkah masuk dalam kategori sikap “ingin menjadi pahlawan???”

(saya tidak ingin membuat penilaian sendiri)

 

** Well…

 

Tentang beberapa peristiwa di atas,

Saya pun sebenarnya tidak hendak mengungkit untuk maksud berbangga atau apalah…

Saya hanya sedang Merenungi rangkaian peristiwa.

 

 

 

 

 

Pada akhirnya perenungan atas peristiwa mobil jumping hari ini menyadarkan saya pada satu hal tentang Panggilan Nurani.

“Bahwa ketika Nurani Memanggil, maka kita tidak peduli pada apapun. Kita hanya punya satu kata untuk kita lakukan : TOLONG”.

Panggilan Nurani membuat kita bisa melakukan apa yang kita tidak bisa dan biasa.

Membebaskan kita dari rasa takut, benci bahkan jik

 

a itu pada musuh sekalipun.

Kita lupa apakah kita mengenal orang itu atau tidak, kita lupa bahwa mereka perusuh, pemabuk atau bahkan “mungkin” penjahat.

Ketika kita temukan mereka dalam kondisi jiwa yang membutuhkan pertolongan, maka diri dan jiwa kita dengan secara refreks terfokus pada satu kata yang menggerakkan untuk berbuat yaitu : MENOLONG.

Seperti itu lah…

 

*** ini ceritaku hari ini…

Semoga menjadi spirit untuk adik-adik calon relawan BSMI NTB yang sudah mendaftarkan diri, dan insyaALLAH akan Diklat BSMI NTB tanggal 15 November nanti. (Sunisa F)

Single Post Navigation

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: