Bulan Sabit Merah Indonesia

Untuk Kemanusiaan dan Perdamaian

Harumnya Merah Putih bersama Bulan Sabit Merah Indonesia

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


Bulan Sabit Merah Indonesia atau BSMI merupakan lembaga yang berkhidmat dalam bidang kesehatan dan sosial di Indonesia dan bekerja sama dengan lembaga kemanusiaan di tingkat nasional, regional dan internasional, demikian visi yang dimilikinya. Diawal tahun 2009, BSMI terbang langsung menuju Palestina disaat terjadi bencana kemanusiaan dimana Israel melakukan Aksi militer ke daerah Gaza yang merupakan wilayah kedaulatan Palestina.

Yang terjadi adalah korban sipil ratusan jiwa (kebanyakan anak-anak dan orang tua), ribuan luka-luka, sarana prasarana hancur di terjang bom-bom militer. Kini di November 2012 perang 8 hari kembali menimbulkan krisis kemanusiaan di Gaza Palestina. Respon BSMI kembali memberangkatkan Tim Kemanusiaan dengan brand seirama dengan Pemerintah yaitu Capacity Building for Palestine. BSMI memberi bantuan pelatihan teknologi medis stem cell, protease, scholarship dan tentunya bantuan tenaga dokter spesialis dan bantuan alat medis untuk RS Shifa di Gaza.

       Bahasa kemanusiaan adalah bahasa universal, disaat penduduk dibelahan bumi yang jauh disana, lintas negara dan lintas benua, masyarakat tergerak membantu meringankan penderitaan. Tidak terkecuali Indonesia, masyarakat Indonesia melalui Bulan Sabit Merah Indonesia hadir menolong pengungsi dan korban aksi militer Israel terhadap penduduk Gaza/Palestina (2009,2010,2012) atau ketika Konflik militer Israel dengan Libanon (2006). Merupakan sebuah fenomena yang unik, Indonesia yang menggunakan lambang ‘resmi’ Palang Merah menyertakan relawan dari Bulan Sabit Merah yang jelas-jelas menggunakan lambang Bulan Sabit Merah, 2 lambang yang dilindungi oleh Konvensi Jenewa. Hal ini merupakan pelajaran berharga bahwa aksi kemanusiaan dan perdamaian tidak dapat dihalangi oleh sebuah ‘Rules’ yang mengharuskan bahwa satu negara satu lambang sehingga warga negara yang ingin berkontribusi dalam aksi kemanusiaan dunia internasional tidak dapat dihalang-halangi.

      Selama untuk meringankan penderitaan sesama manusia sebagai warga dan masyarakat dunia, merupakan alasan yang paling logis bahwa penggunaan sebuah lambang untuk kemanusiaan sekalipun tidak bisa dipaksakan hanya satu saja lambang kemanusiaan. Terbukti Aksi BSMI yang datang ke Myanmar untuk Komunitas Rohingya yang terusir dan berada di camp-camp (2012),  Pakistan (2005), dan Irak, Baghdad (2003), BSMI sebagai interpretasi warga dunia yang berdedikasi dalam kemanusiaan, penuh dengan pengorbanan dalam menolong, adalah memberikan manfaat secara simbolis kepada negara karena membawa nama Indonesia dengan bendera merah putih dihadapan miliaran mata warga dunia. Timur tengah dan kawasan yang akrab dengan lambang Bulan Sabit Merah sangat mendukung secara kultur dalam sebuah aksi kemanusiaan. Karena bisa dijadikan sebuah perhatiaan bahwa penggunaan Palang Merah (Soliibul Ahmar/ Salib merah) menjadi pengganjal bagi seorang relawan masuk dengan adat dan kultur yang berbeda untuk menolong disaat situasi konflik maupun kebencanaan.

        Penggunaan Bulan Sabit Merah sebagai panji kemanusiaan tidak dapat dilepaskan dari faktor kultural dan dasar sosiologis bagi relawan-relawan yang menggunakannya. karena berdasar dari keyakinan dan semangat voluunteris maka sah-sah saja aksi kemanusiaan tidak dapat dilarang. Hal ini harmoni dengan semangat kebebasan, demokrasi dan reformasi di negara yang kita cintai ini. Semakin nyatanya kiprah BSMI di luar negeri atau dalam negeri sekalipun maka sungguh tidak arif bahwa BSMI akan dilarang dengan dipaksa mengganti lambang kemanusiaan yang selama ini dipegang yaitu Bulan Sabit Merah.

Moga hal ini menjadi tinjauan ulang bahwa RUU Lambang Palang Merah (kini RUU Kepalangmerahan) yang saat ini dibahas di Komisi III DPR RI (2005-2009) dan Badan Legislasi (Baleg) DPR RI (2012-..?) adalah lebih besar mudharatnya ketimbang kebaikan dimana resistensi yang akan muncul dan kebhinekaan yang akan melemah disebabkan adanya upaya pemaksaan sistematis yang giat bahwa hanya boleh ada satu saja lambang kemanusiaan sehingga meng’Ilegalkan lambang lain seperti lambang Bulan Sabit Merah.(Tulisan Dari Warga Biasa)

RUU KEPALANGMERAHAN : FRAKSI – FRAKSI DI DPR MENDUKUNG KEBERADAAN BSMI

RUU Kepalangmerahan  yang saat ini baru saja diupayakan ke Paripurna DPR pasca pemaparan pendapat fraksi di Badan legislatif DPR RI ternyata belum disepakati secara bulat oleh keseluruhan fraksi.
Konvensi Jenewa mengakui adanya tiga lambang kemanusiaan di dunia ini, yaitu Bulan Sabit Merah (digunakan oleh tiga puluh negara, terutama negara-negara Islam dan negara di timur tengah), Palang Merah, dan Kristal Merah (hanya digunakan oleh satu negara yakni Israel).

Seperti diketahui RUU yang tengah bergulir ini seakan-akan wakil rakyat yang ada di senayan bersukacita bahwa lambang kemanusiaan di Indonesia yang diakui adalah lambang Palang Merah. Ditambah pula penggiringan opini adanya berbagai kepentingan yang hendak “mengkudeta” lambang Palang Merah di Indonesia yang pada dasarnya itu sebuah pengalihan substansi tentang polemik pengaturan lambang dan gerakan kemanusiaan di Indonesia.

Lepas dari masalah lambang, untuk RUU yang membahas masalah kemanusiaan dan sosial namun judulnya adalah RUU Kepalangmerahan dan mengkhususkan diri kepada pengaturan oganisasi kepalangmerahan & lambang, maka berarti sudah keluar dari masalah yang substansial yang lebih mendasar yaitu kemanusiaan.

RUU ini seolah-olah hanya membahas tentang lambang sebuah organisasi tertentu, yang tentu saja akan mengerdilkan permasalah pada dasarnya sangat global dan mendasar.

Menanggapi hal tersebut, tak kurang dari 5 fraksi, yaitu dari partai Hanura, Gerindra, PAN, Demokrat dan PKS yang menyatakan hendaknya Bulan Sabit Merah Indonesia diakui keberadaannya dengan menyebutkannya di dalam batang tubuh RUU. Secara implisit FPDIP mengusulkan tetap memberi ruang kepada organisasi kemanusiaan lain untuk berkiprah. Bahkan, secara tegas fraksi partai Hanura menyatakan setuju terhadap perubahan RUU Kepalangmerahan menjadi RUU Sosial Kemanusiaan.

Pengakuan terhadap Bulan Sabit Merah Indonesia ini sangat senafas dengan kondisi negara Indonesia yang multikultural dan plural dibawah lindungan konstitusi dalam toleransi serta demokrasi, namun perlu juga diketahui bahwa lambang Bulan Sabit Merah juga lambang netral dan diakui didunia.

“Selama ini Bulan Sabit Merah Indonesia juga telah membuktikan keprofesionalan serta kenetralan dalam beraktivitas secara mandiri” Demikian dinyatakan oleh ketua umum BSMI, Muhammad Djazuli Ambari,SKM,MSi di sela-sela konferensi pers menjelang keberangkatan tim aju BSMI ke Rohingya-Myanmar. Insya Allah pada sabtu pagi, guna memberikan bantuan medis dan kemanusiaan lain serta melakukan penyembelihan hewan kurban untuk pengungsi Rohingya di Myanmar. (fau)

1 Dekade BSMI: SAMBUTAN PENDIRI BSMI

Assalamu’alaikum wrohmatullaahi waborakaatuh.

Alhamdulillahirobbil alamiin.Washsholaatu wassalaamu ala asrofil anbiyaai wal mursalin.

Selamat malam,Selamat sejhatera buat kita semua.

Segala puja dan puji syukur kita panjatkan kehadirat ilahi Robbi, dan demikianlah seharusnya-atas segala nikmat yang Allah berikan khususnya pada malam ini kita bisa berkumpul dalam keadaan sehta wal afiaat. Salam kita panjatkan atas Nabi Muhammad SAW pemimpin kaum muslinin, contoh dan teladan umat, juga atas seluruh sahabat dan keluarga serta penerus risalahnya hingga akhir zaman.

Kami ucapkan terima kasih atas kehadiran seluruh hadirin yang kami hormati, atas waktu dan perhatiannya untuk acara ini yaitu Milad BSMI ke 10. Hanya Allah sajalah yang akan membalasnya. Milad merupakan penanda di salah satu waktu rentang kehidupan, penanda kehidupan organisasi, penanda kehidupan organisasi kemanusiaan BSMI yang kita cintai bersama. Di waktu ini kita merenung dan memahami apa yang telah kita lakukan dan apa yang akan kita lakukan.

Sepuluh tahun yang lalu, setelah gegap gempita reformasi terjadi konflik horisontal beraura agama di ujung timur Indonesia. Pengalaman yang sangat tidak menyenangkan, ada warna ketidak adilan, pemihakan dan penelantaran, ada kecurigaan, kecemburuan, korban – korban jiwa, darah dan duka nestapa. Ada ruang kosong yang tak terisi dan bahkan sulit diisi tapi harus diisi. Ada kebutuhan akan peran umat untuk mengisi dan membangun perdamaian, membangun kemanusiaan. Para aktivis kemanusiaan berkumpul bermusyawarah, aktivis yang awal dan yang belakangan, yang tua dan yang muda semua menguji gagasan dan pndapat dan menemui keseimbangan yaitu perlunya organisasi kemanusiaan di bumi Indonesia yang mampu mejembatani dan mengatasi masalah kemanusiaan dan perdamaian. Maka pada tanggal 8 Juni 2002, di Aula masjid Al Azhar Jakarta dideklarasikanlah suatu organisasi kemanusian yang berlambangakan bulan sabit merah yaitu Bulan Sabit Merah Indonesia. Ada harapan dan suka dan juga duka.

Harapan itu berpadu dan terwujud dalam berbagai aksi kemanusiaan. Konflik Aceh, Gempa Nabire, Gempa Alor, Perang Irak, Perang israel Libanon, Tsunami Aceh, Gempa Jogja, Gempa Pangandaran, Wasior, Mentawai, Situ Gintung. Perang israel – Gaza dan banyak lagi. Juga aksi kemanusiaan Ibu dan Anak, Operasi Katarak, Hernia, rumah Sakit Lapangan. Itu semua menjadi ujian keimanan dan kesabaran. Aksi kemanuniaan ini menghimpun ribuan relawan BSMI di hampir seluruh penjuru Nusantara dari Sabang sampai Papua, dari Alor sampai Ternate. Menghimpun seluruh relawan dari berbagai profesi baik non medis dan non medis. Jurnalis, driver, dapur umum, logistik, perawat, bidan, dokter, akuntan, ahli hukum, komunikasi dan banyak lagi. Menghimpun relawan baik yang Muslim, Nasrani dan Budha. Alangkah indahnya keragaman itu di bawah lambang kemanusiaan dan perdamiaan yaitu lambang Bulan Sabit Merah. Banyak hal mebuat kita haru,gembira, tersenyum dan bahagia. Melihat wajah para masyarakat yang kurang beruntung, yang sedikit terkurangi penderitaannya dengan aksi aksi kemanusiaan BSMI. Ada rasa bahagia di dalam lubuk hati kita, melihat munculnya dan menggeloranya semangat para relawan kemanusiaan sehingga berdirilah berbagai organisasi kemanusiaan di Indonesia setelah kehadiran BSMI, terbitlah Undang Undang Penanggulangan Bencana, muncullah berbagai Rumah Sakit Lapangan dan juga Undang Undang Sistem Jaminan Sosial Nasional, dan beasiswa Palestina dan banyak lagi. BSMI membantu pemerintah menyalurkan bantuan ke kota Baghdad Iraq, membawa ambulans dan bantuan untuk Gaza Palestina. BSMI membantu pelepasan sandera TKI dan wartawan Metro TV di Iraq. Muncul berbagai kerjasama program kemanusian dengan berbagai Kementerian. Banyak aksi kerjasama dengan dunia Usaha seperti Indosat dan lain lain. BSMI menerima sumbangan dari para donatur kemanusiaan untuk kegiatan kemanusiaan. Alangkah indah dan menyenangkan. Telah banyak yang telah kita kerjakan berkat kerjasama semua pihak dan tentu akan lebih banyak lagi aksi aksi kemanusiaan dengan dukungan para relawan, para donatur, masyarakat, pemerintah dan para nggota parlemen Indonesia.

Namun ada sedikit rasa galau ketika ada pihak yang memaksakan lambangnya sebagai satu satunya lambang di Indonesia. Perlukah itu ? Apa manfaatnya buat masyarakat Indonesia ??? Apa akan menimbulkan kedamian atau keresahan ??? Namun kita percaya pada pertolongan Allah, Allah akan menolong hambanya yang dekat dengan umatnya. Allah akan menolong BSMI untuk terus tumbuh dan hidup berkembang disanubari masyarakat Indonesia. Melalui gerak hati dan kerja para anggota parlemen, pemerintah dunia usaha. Semoga Allah meridhoi kita semua. Amin.

Selamat untuk para relawan. Selamat untuk para donatur. Selamat untuk para mitra BSMI. Selamat untuk semua. Hidup BSMI. Amin

Wassalamu alaikum warohatullaahi wabarokaatuh.

RUU Kepalangmerahan (Baleg DPR RI 2012)

RUU Lambang Palang Merah (Baleg DPR RI 2012)

Kebersamaan itu akan sirna

Fakta dilapangan bahwa Bulan Sabit Merah Indonesia dapat bermitra dengan PMI, namun dengan adanya RUU Lambang Palang Merah maka kebersamaan dalam aksi kemanusiaan akan sirna.

di Posko Pengungsi Bencana Tanah Longsor di Bale Endah Bandung 2008

Tragedi Situgintung

 

Mencari jenazah korban Jatuhnya Pesawat di Medan 2007

medan

 

 

 

 

 

 

 

Bantuan alat-alat kesehatan dari BSMI untuk korban gempa Nabire-2006 yg ditransitkan di PMI Cabang Nabire Irian Jaya (Papua) yg kemudian Relawan BSMI salurkan

BSMI di Nabire-Papua

PP BSMI bersama pengurus PMI setempat

Militer dan BSMI berSINERGI

bersama Panglima Daerah Militer Jakarta Raya di Posko Medis BSMI(2007)

bersama Pangdam Jaya

Bersama TNI AU tiba di Manokwari pasca gempa bumi di Papua Barat (2009)

Bersama TNI AU

 

 

 

 

 

 

 

BSMI bersama Prajurit TNI AD berkoordinasi dalam penyaluran bantuan bagi korban tsunami Aceh (Banda Aceh, 2005)

bersama prajurit TNI AD

 

Kegiatan bersama Komando Distrik Militer 1612 Manggarai-Nusa Tenggara Timur (2007)

kegiatan bersama KODIM 1612 Manggarai-NTT

 

Bersama Marinir TNI di RS Lapangan BSMI menolong korban sipil konflik GAM dgn Pemerintah RI (2002)

bersama Marinir TNI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Prajurit TNI membantu Tim medis BSMI

Prajurit membantu Tim medis BSMI mengkhitan

 

 

 

 

 

 

 

Koordinasi BSMI dgn Komando Distrik Militer (KODIM) 0809 di lokasi tenda pengungsi Banjir Baleendah bandang Bandung Selatan Jawa Barat (2008)

Bersama KODIM 0809 di Bandung Selatan Jawa Barat

 

 

 

 

 

 

 

Bersama Prajurit TNI di Meulaboh setelah pendistribusian bantuan

bersama tentara di Meulaboh 2005

 

 

 

 

 

 

Seremoni Pemberian Bantuan Kesehatan oleh BSMI cabang di daerahSeremoni Pemberian Bantuan Kesehatan oleh BSMI cabang di daerah

Pin PIN BSMI

Pin PIN BSMI

membeli termasuk berDonasi, order: 085693243882 an. Pandu Mas Saputra (Relawan Diklatsar BSMI Pusat)

Seminar

Seminar

Seminar ” Strategi pembiayaan dlm penanganan bencana”, Sbtu 28 Sep jam 08.00-13.00, Ged B101 FMIPA UI Depok. cp/ 081947174757 or 085353917770

#MesirRedAlert

PERNYATAAN SIKAP
BULAN SABIT MERAH INDONESIA
TERHADAP TRAGEDI KEMANUSIAAN DI MESIR
PASCA KUDETA MILITER 30 JUNI 2013

Dalam beberapa waktu terakhir ini kita semua melihat bahwa eskalasi kekerasan di Mesir sangat meluas dan memakan banyak korban dari kalangan sipil. Sebagai lembaga kemanusiaan yang berprinsip menghormati kehidupan dan mencegah penderitaan, kami sangat prihatin dengan apa yang terjadi di negara Mesir saat ini. Kami menyerukan kepada semua pihak yang terlibat untuk melindungi masyarakat sipil yang tidak bersenjata dan menjunjung tinggi martabat manusia. Orang terluka harus diberikan akses ke perawatan medis yang mereka butuhkan. Kami siap untuk mendukung Bulan Sabit Merah Mesir dalam pekerjaannya untuk membantu orang yang terkena kekerasan.

Maka dengan ini Bulan Sabit Merah Indonesia menyatakan :
1. Pembantaian terhadap warga sipil pro demokrasi yang terjadi di Mesir oleh militer dan polisi Mesir yang sudah berlangsung kesekiankalinya tersebut sangat tidak bisa ditolerir secara hukum, secara Hak Asasi Manusia, secara etika, apalagi secara budaya dan agama rakyat Mesir sendiri.
2. Pembantaian militer terhadap rakyat sipil sejatinya adalah bukan penegakan ketertiban, penegakan keamanan, apalagi penegakan hukum. Karena militer-lah yang justru merusak tatanan demokrasi dan kedamaian di Mesir dengan cara-cara yang inkonstitusional dan tidak demokratis.
3. Pembantaian militer yang menewaskan dan melukai ratusan hingga ribuan rakyat sipil, tidak dalam kondisi perang, adalah tidak memiliki justifikasi apapun dari hukum internasional dan bahkan dari hukum Mesir sendiri.
4. Pembantaian militer tersebut adalah suatu Kejahatan dan Pelanggaran Serius terhadap Hak Asasi Manusia (Grave Breaches of Human Rights/ Gross Violation of Human Rights) dan Kejahatan terhadap Kemanusiaan (Crime Against Humanity) dimana pelakunya dapat dipidana maksimal.
5. Kejahatan terhadap Kemanusiaan di Mesir adalah melanggar Universal Declaration of Human Rights 1948, International Covenant on Civil and Political Rights 1966, Convention Against Torture 1984, dan Rome Statute on International Criminal Court 1998 utamanya tentang Hak Hidup (right to live) , Hak Bebas dari Penyiksaan (Freedom of Torture) dan Hak Atas Rasa Aman (Freedom from Fear)
6. Sudah sepatutnya masyarakat internasional mengutuk peristiwa pembantaian tersebut dan mendorong para pelakunya untuk diadili di pengadilan pidana yang independen. Apabila pengadilan tersebut sukar dihadirkan, maka para pelakunya harus diseret ke International Court of Justice di Den Haag dengan inisiatif dari Jaksa Penuntut Umum ICC dan dukungan dari Dewan Keamanan PBB.
7. Kairo adalah juga tempat lahirnya Declaration of Human Rights in Islam dari negara-negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada Agustus 1990. Maka, sudah sepatutnya, atas nama kemanusiaan, keadilan, HAM dan perdamaian, negara-negara OKI, termasuk Indonesia, mengambil prakarsa aktif untuk penegakan keadilan di Mesir dengan dikembalikannya pemerintahan di Mesir pada pemerintahan sipil berdaulat dan menolak intervensi militer yang inkonstitusional.

Jakarta, 17 Agustus 2013

DEWAN PENGURUS NASIONAL
BULAN SABIT MERAH INDONESIA

Peduli Banjir Jakarta 2013

BSMI benar-benar membantu warga Jakarta

Sinergi dan Koordinasi Kemkes RI – BSMI

GambarBSMI.OR.ID – (Jakarta) Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) terus menjaga hubungan baik dengan Kementerian Kesehatan (Kemkes) RI dengan rutin berkoordinasi dan melaporkan kegiatan dalam bentuk audiensi pada Kamis (27/12).

Bertandang ke Ke Kemkea RI, BSMI disambut oleh Wamenkes  Prof. Dr. Ali Ghufron, PhD beserta staf. Hadir delegasi BSMI yaitu Pembina BSMI Dr Basuki Supartono, SPOT,FICS,MARS, Dewan Pengurus Nasional BSMI yaitu Muhamad Djazuli,MSi , M.Rudi dan Dr Prita,SPOG, dan tenaga ahli BSMI dr Fuadi, SPKJ juga K0ordinator Program Syekh AQ.

BSMI mengucapkan terimakasih atas penerimaan Kemkes hubungan baik yang terus terjaga dan melaporkan berbagai kegiatan seperti misi kemanusiaan Palestina, Rohingya-Myanmar, RSU BSMI di Aceh, program Kesehatan Ibu dan Anak.  Wamenkes mengapresiasi BSMI atas kiprahnya dan mempersilakan dukungan yang bisa diberikan oleh Kemkes. ” Banyak sekali kegiatan BSMI” ujar Prof Ghufron yang juga Guru besar UGM.

BSMI.OR.ID (Jakarta) BSMI sebagai stakeholder pemberi layanan kesehatan masyarakat memberi masukan kepada Wamenkes RI tentang celah Program Jaminan Kesehatan yang marak di terapkan di daerah-daerah.

Pada Kamis (29/12) dalam suasana hangat bersama Prof Dr Ali Ghufron,PhD BSMI menjelaskan hadirnya RSU BSMI di Aceh 2005 pasca tsunami memberi effort kepada masyarakat dan usaha pelayanan kesehatan bersinergi mensukseskan pembangunan kesehatan di Aceh. Adanya Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) memiliki dampak pelayanan yang diberikan oleh RS-RS Swasta.

Seluruh warga yang mendapatkan Jaminan Kesehatan dan berobat gratis di RS yang ditunjuk, memanfaatkan Layanan tersebut namun tetap membayar uang lebih untuk mendapat fasilitas kelas pelayanan yang lebih tinggi yang sejatinya mendapat kartu Jamkes adalah masyarakat tidak mengeluarkan biaya. ” kami mengusulkan RS yang ditunjuk Jamkes tidak ada kelas-kelas layanan, karena pengalaman kami warga yang mampu membayar lebih, bisa pindah naik ke VVIP yang seharusnya hanya kelas III” ujar Dr Basuki, sebagai Delegasi BSMI sat beraudiensi.

Wamenkes mengamini bahwa adanya Jamkes adalah masyarakat seharusnya gratis, adanya kejadian tersebut tujuan Jamkes menjadi kurang efektif. ” Saya sering menyampaikan kepada umum, cost sharing memang perlu ditekankan, sehingga tidak ada  penyalahgunaan yang berimbas kepada kerugian satu pihak, kejadian ini sama seperti di Malaysia dan negara lain yang perlu pembenahan jaminan kesehatannya”  pungkas Prof Ghufron. BSMI berharap usulan tersebut menjadi perhatian disaat penerapan BPJS belum efektif berjalan. 

BSMI.OR.ID – (Jakarta) Pasca keberangkatan tim pertama BSMI ke Gaza dan jelang keberangkatan rombongan BSMI berikutnya, Delegasi BSMI melaporkan dan memohon restu kepada Prof Dr Ali Ghufron sebagai Wamenkes RI, Kamis (27/12).

BSMI menjelaskan bahwa keberangkatan relawan ke Gaza-Palestina pasca tim pertama adalah pelatihan stem cell dengan metode workshop dan lecturing. ” awalnya  ditahun 2009 kami diminta pelatihan teknologi stemcell, karena waktu dan persiapan. akhirnya kini kami siap berangkat ke Gaza melatih stem cell dengan workshop dan lecturing ke local staff Shifa Hospital di sana” ungkap dr Basuki, SpOT sebagai pembina BSMI saat bertemu muka dengan Wamenkes.Gambar

Wamenkes mengapresiasi rencana tersebut dan berharap ilmu yang diberikan dan pastinya bermanfaat seperti harapan BSMI. ” Kami paham bahwa Gaza memang sulit secara akses teknologi kedokteran dan pelatihan itu insya Allah manfaat” ujar Prof Ghufron.

BSMI menyampaikan kebutuhan obat yang diminta Depkes Palestina di Gaza dan Kemkes siap mensupport sesuai ketersediaan instansinya. ” Daftar ini kami terima dan kami teruskan ke Unit kami selanjutnya kita terus koordinasi” pungkas Wamenkes. (Dul)

 

Univ. Muhammadiyah Jakarta siap Didik Mhs Palestina

GambarBSMI.OR.ID – (Jakarta) Delegasi Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) bertandang ke Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dalam program capacity building for Palestinian Rabu (19/12).

Komitmen UMJ melanjutkan dukungan peningkatan kapasitas warga Palestina kembali ditegaskan Rektor UMJ Jakarta Prof. Masyitoh. Dalam forum yang dihadiri perwakilan Dekanat Fakultas se UMJ, Prof Masyitoh mengarahkan bahwa Mahasiswa Palestina siap ditampung di setiap fakultas masing-masing satu orang dihadapan Sekjen BSMI M. Rudi.

” UMJ siap berkontribusi membantu Palestina dengan menerima mahasiswa asal Palestina” ujar satu-satunya rektor perempuan Kampus Muhammadiyah se Indonesia tersebut.

UMJ menyatakan bahwa dukungan atas solidaritas kemanusiaan untuk Palestina menjadi  pilihan  UMJ Jakarta sebagai bentuk tanggung jawab moril dan kemampuan UMJ adalah memberi pendidikan sinergi dengan program BSMI.

” kami dengar beberapa lembaga membawa bantuan uang 1 miliar rupiah  langsung dibawa ke Gaza dan pemanfaatannya diserahkan kepada pihak sana, kami sebagai insan pendidikan dibawah payung Muhammadiyah berkontribusi yang kami bisa yaitu beasiswa” Ujar Prof Masyitoh.

Rencana keberangkatan rombongan kedua BSMI ke Gaza yaitu menjemput kandidat mahasiswa asal Palestina dan memberikan pelatihan medis. ” BSMI senantiasa mengajak berbagai pihak berkontribusi dalam mencetak SDM-SDM Palestina dengan menyekolahkan dengan menggandeng Kampus, dan 1 orang sudah pasti yaitu akan masuk Fakultas Kedokteran di UMJ. (Dul)

Bukan Hanya…

Gambar

Bukan hanya..

Kerja kemanusiaan..
bukan hanya tntg keinginan..
bukan hanya tntg kesanggupan,

bhakti sosial
bukan hanya tntg mmbri pada yg brhak mnrima..
bukan pula hanya tntg mmbri tanpa harap imbalan..gerak sosial kmanusiaan
bukan hanya tntg empati dan simpati..
bukan pula hanya tntg semangat menggebu nan membara..
bukan…bukan…hanya itu…

lebih dari itu..yang dibutuhkan adalah ksiapan..persiapan..yang terbaik..
karena “itu semua” bukan hanya tntg dilakukan ato tntg skdar terlaksana..
lebih dari itu sharusnya ini tntg mmbrikan yg trbaik yg dimiliki,,agar “smua itu” trlaksana dngan indah..sharusnya dngan indah..tanpa ada yg tersakiti..

kenapa?!
yaa.. karna mreka berhak..berhak dapat yg trbaik..
bukan hanya org-org “berkantong tebal” dluar sana yg harus dpet yg trbaik..
bahkan..mreka,,org-org yg kita sebut “tak mampu” itu lebih berhak..!

maka..
mari persiapkan persiapan yg trbaik..jangan stengah-stengah..
optimalkan-maksimalkan..walo mungkin butuh waktu yg lama..sangat lama..
tak apa..sangat tak apa-apa..
karna “itu smua” demi mreka dan jg sbnarnya untuk kita yg mengharapkan tumbuh berseminya kebaikan..

**mari sama-sama kita renungkan kembali niat dasar apa yg buat kita ingin terlibat pada kerja,,bhakti,,gerak sosial kemanusiaan ini..! agar langkah ini kembali trasa ringan..seakan ingin lari tuk menerjang kbaikan..

(Halid Alhanzalah, BSMI NTB)

BSMI Tetap Fokus Bantu Pasien Gakin

Gambar

BSMI memiliki Program Klinik Keluarga Miskin yang bersinergi dengan ZISKES BSMI. Adapun bentuknya adalah pemdampingan operasi bedah di Rumah Sakit, pemberian bantuan sosial pengobatan hingga BSMI menjadi operator sendiri dalam memberikan tindakan medis seperti membantu persalinan dengan SDM Relawan BSMI, operasi patah tulang, Katarak, khitan murah dan khitan gratis untuk mualaf dan operasi bedah lainnya.

Pada tanggal 7 Desember 2012 telah dilaksanakan kunjungan pada pasien gakin penerima bantuan dari BSMI sebesar Rp 700.000,- yaitu bapak Budiono yang beralamat di Mampang, Jakarta Selatan. Kunjungan ini dilakukan oleh peserta Latsar yaitu Elam Sanurihim Ayatuna dan Fanuva Endang Tri Setyaningsih. Kunjungan ini dilaksanakan setelah berakhirnya sholat Jum’at dengan minibus sebagai alat transportasi dan kemudian dilanjutkan dengan ojek. Sesampai dirumah kontrakan Bapak Budiono, kami disambut oleh adik dan anak beliau.

 Kondisi bapak Budiono terlihat lemas, aktivitas sehari-hari hanyalah tirah baring. Bapak Budiono menuturkan bahwa beliau terlalu lemas untuk sekedar berdiri atau jalan. Dengan aktivitas bapak Budiono yang hanya tirah baring saja, membuat Bapak Budiono beresiko mendapat luka dekubitus, akan tetapi hal ini tidak terkaji lebih lanjut sehingga hanya dapat menyarankan untuk merubah posisi bapak Budiono setiap 2 jam sekali. Selain itu terlihat pula tangan kurus bapak Budiono yang mulai terlihat kontraktur, tangan kanan terlihat menekuk dan terlihat agak susah digerakkan. Terlihat pula muka bapak Budiono pucat, tubuh kurus dan menyusut. Bapak Budiono dan adiknya mengatakan bahwa sudah lama tidak mendapat asupan cairan mapun nutrisi yang cukup yang dikarenakan minuman atau makanan cair yang masuk pasti akan selalu dimuntahkan kembali. Hal ini menyebabkan turgor kulit buruk Bapak Budiono buruk.

 Pada kunjungan ini, keluarga juga menceritakan bahwa setelah keluar dari RS Budi Asih ke RSCM untuk tindakan pemeriksaan memerlukan surat rujukan sehingga keluarga mengalami kesulitan untuk mendapatkan rujukan setiap kali akan melakukan pemeriksaan. Keluarga juga menunjukkan hasil rontgen thorax dan abdomen bapak Budiono, akan tetapi karena keterbatasan kemampuan kami sehingga tidak dapat menafsirkan hasil rontgen tersebut. Keluarga sendiri mengaku tidak mengerti arti hasil rontgen itu, hanya dokter mengatakan kemungkinan ada massa pada abdomen (perut) bapak Budiono. (Elam)

Alhamdulillah..Bantuan Buat Gaza Tersalurkan

REPUBLIKA.CO.ID, TANGERANG – Setelah sepekan di Kota Gaza, relawan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) kembali ke Indonesia, Jumat (7/12) sore.

“Alhamdulillah, amanah rakyat Indonesia telah kami sampaikan,” kata Ketua Umum BSMI M Djazuli, Sabtu (8/12). Bersama Lucky Pransiska,  kurang lebih sepekan dia berada di Kota Gaza untuk misi kemanusian gelombang pertama.

Mereka menyerahkan bantuan alat kesehatan senilai 60 ribu dollar Amerika kepada Rumah Sakit Al-Shifa.

BSMI juga telah menjalin kerjasama dengan Menteri Kesehatan Palestina Dr. Mufidh Alkhalalah dalam pelatihan stem cell (sel punca) untuk perawatan luka korban perang. Berikut pelatihan untuk membuat kaki palsu untuk korban amputasi.

“Kami tertarik dengan pelatihan kesehatan yang direncanakan BSMI karena sesuai dengan kebutuhan kami,” kata respon Alkashif yang juga menjabat sebagai Direktur Hubugan Internasional Departemen Kesehatan Palestina.

Selain pelatihan medis akan dijalin kesepakatan untuk memberikan beasiswa kepada siswa yang akan belajar di universitas di Indonesia.

“Kita akan terus berusaha agar rencana kita bisa tercapai yangitu mendatangkan siswa sebanyak 12 orang dari Gaza, Palestina,” ujar Sekjen BSMI Muhammad Rudi.

1 Ton Amanah Rakyat RI Tiba di GAZA-PALESTINA

Gambar
Kamis (29/11), siang hari waktu setempat. Dengan bantuan protokoler Palestina, rombongan lembaga kemanusiaan, termasuk Bulan Sabit Merah Indonesia,  bersama komisi I DPR melewati perbatasan Gaza. Setelah memasuki Gaza, rombongan Indonesia mengikuti agenda DPR bertemu dengan parlemen Palestina dan Perdana Menteri Ismail Haniyya. Setelah itu, dibantu oleh Direktur Departemen Protokoler Majed N Al-Zebda, relawan BSMI  menyerahkan 1 ton bantuan dalam 12 koper  alat-alat kesehatan ke RS. Shifa  bantuan dari rakyat Indonesia melalui BSMI. Bantuan tersebut diterima oleh GeneralDirector International Cooperation Department, Dr. Mohamed R. Alkashif.
 
Sebelum penyerahan bantuan kemanusiaan tersebut, masih dibantu oleh Majed, relawan diterima oleh Menteri Kesehatan Dr. Mufid Alkhalalati. Dengan menteri kesehatan dan didampingi oleh Dr. Mohamed, relawan BSMI berbincang tentang pelatihan pembuatan kaki palsu, pelatihan perawatan luka cara stem cell dan program beasiswa master serta doktor bagi warga Palestina. Agenda relawan BSMI tak hanya berfokus di bidang kesehatan melainkan juga pendidikan, ”Perbincangan lebih panjang akan berlanjut di pertemuan berikutnya yang akan dijadwalkan pada Sabtu (30/11). Selain bertemu kembali dengan Menteri Kesehatan, kami akan berusaha mengagendakan pertemuan dengan Menteri Pendidikan Palestina membicarakan program beasiswa bagi warga Palestina,” jelas Muhammad Djazuli Ambari, Ketua Umum BSMI. (zyy).

Post Navigation

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.